Dear Eyang…

30 08 2014

Hi Eyang Kakung, Eyang Putri.
I am trully miss you both. I have mixed feeling on my way to see you here.

In a way I was wishing that you two still around to see ur family, and in the otherside I know that both of you are happily united there and see us from above.

And I still cry even after I left the cemetary complex. You are loved and you will always be in my heart, grandma-grandpa. I ❤️you eyangs. Al Fathihah. – at Makam Kranon

View on Path





#CeritaFatmawati

10 08 2014

Bagian favorite saya dari #ceritaFatmawati.

Merinding karena lirih suara biola disambut seisi auditorium Galeri Indonesia Kaya berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ini namanya bener-bener yg muda yg berkarya. #ceritaFatmawati #IndonesiaKaya – with Arini

View on Path





Memilih: Yang Baik Dari Yang Buruk

11 07 2014

Yuforia Pemilu masih riuh-rendah di Indonesia, bahkan teman-teman sesama WNI di luar negeri pun seakan tak mau kalah, ikut « berpesta » demokrasi, yang katanya paling seru dalam sejarah peta demokrasi di negara ini. Bagaimana tidak, karena 2 kandidat calon presiden Indonesia ini masing-masing memiliki kharisma yang kuat bagi masing-masing simpatisannya.

Saya adalah salah satunya, bukan warga negara yg cukup vocal mendukung salah satu CaPres, saya malah cenderung pasif menyuarakan « suara » saya. Cukup memantau saja, walaupun terkadang sampe membelalakan mata dan mengerenyitkan dahi. Yang jelas, saya sih berpegang pada prinsip ‘Rahasia’, jadi kalau ada yg bertanya: « Pilih siapa Ham? », jawab saya pasti: « Ada deh..Rahasia dong ».

Ini pun termasuk dengan ayah saya yg ‘berkampanye’ tentang capres nya kepada saya, yang kebetulan berbeda dengan pilihan saya. Lama kelamaan saya sampai suatu titik dimana saya bertanya, seberapa yakin ya saya dengan pilihan saya?

Beberapa pekan yang lalu saya punya kesempatan berbincang dengan seorang teman. Tentang bagaimana harusnya kita menyikapi pesta demokrasi. Kami berbincang santai tentang « The What If’s ». Menurut teman saya ini, pemilu kali ini memang berat sekali karena masing-masing sama-sama kuat, visi-misinya, basis simpatisannya, hingga cara berkampanye yang kadang juga membuat saya geleng-geleng kepala.

Inti pembicaraan kami yg bisa saya simpulkan adalah, bahwa kedua capres bukan dewa, masing-masing juga punya kekurangan, begitupun orang-orang dibelakangnya. Pemilu itu baratnya memilih yg baik dari yg buruk, bukan yg terbaik dari yg terbaik. Saya juga pernah skeptis terhadap skema politik di Indonesia, tapi saya percaya masih ada kok orang baik di negeri ini. Orang baik yang percaya hal baik sekecil apa pun dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Persis seperti tulisan saya tepat 5 tahun yg lalu, yg di inspirasi oleh kisah pribadi saya, malam sebelum pemilu 5 tahun yg lalu. (Pemilu 2009

Siapapun presidennya, sebanyak apapun « What If’s » yg bisa kita uraikan akan tetap menjadi what if bila kita, khususnya yg masih muda, menginginkan perubahan negara kita kearah yg lebih baik yg dimulai dengan revolusi mental masing-masing indvidu kita dulu.

Teman saya itu juga menambahkan, yang penting adalah siapapun pilihannya, sebisa mungkin cuma ada 1 putaran, karena anggaran negara yg besar itu akan lebih bermanfaat untuk hal lain daripada pemilu 2 putaran. Nah saya setuju sekali dengan yg ini…

 

 





Selalu Ada Sesuatu Untuk Di Syukuri, Terima Kasih Semesta Alam

25 05 2014

Di tengah minggu dapet applause dari Duta Besar Uni Eropa yg baru Olof Skoog utk kontribusi jadi team respon gempa Padang 2009. Dan, tapi yg paling bikin seneng siang ini di datengin ibu-ibu di resepsi ny Ririn cuma bilang « Mas, ibu seneng liat Mas pake kain batik nya »…

Minggu yg berat. Ada cacian, ada angkara; tetapi juga minggu yg penuh acknowledgement walaupun cuma dari Hal yg kecil.

Bukan pahit nya cacian/angkara yg harus diingat. Tapi sedikit pengakuan/pujian yg harusnya diingat.

Selalu harus ingetin diri sendiri lagi dan lagi supaya ga nyimpen marah dan inget2 yg buruk2, tp selalu inget kata2 yg baik. Supaya ga ngeracunin hati katanya. Don’t feed the wolf inside of you.

Sebelum menutup hari. Terima kasih semesta alam. – at Bilik Oranje Toean & Njonja

View on Path





A Lament for Our Beloved Grandma

5 05 2014

Today. This day. 2 years ago.

Eyang Putri, R.Aj. Soemartijah Notodiprodjo.

There’s not without sorrow that we have to see your light dimmed off. That you finally gave up life for a better place. Happily reunited with your beloved ones. Sending our prayers for you, grandma. Al Fatihah.

View on Path





Saya ini penulis. Jangan coba bungkam saya.

26 11 2013

Mungkin orang menilai saya sebagai orang yang terbuka dan gampang bergaul. Tapi, sebenarnya saya menyadari kekurangan saya yang cukup kontras dengan pribadi saya yang “ramah” itu.

Saya kesulitan mengutarakan pikiran saya secara lisan. Dan bahwa dengan menulis, saya bisa lebih menjadi diri saya.

Saya ini hanya seorang penulis. Saya menulis apa yg saya lihat, apa yg saya rasakan, apa yang benar, apa yang salah. Karena disekliling kita banyak anomali yg bisa kita jadikan alasan untuk menulis dan kita jadikan pelajaran. Bahkan, anomaly dalam artikel orang lain pun bisa kita jadikan pelajaran.

Tapi jangan coba bungkam pikiran saya karena pengertian kita berbeda. Karena yang saya tulis sudah berdasarkan analisa akademis saya, yang saya dapat dari empati, bangku kuliah, pelatihan jurnalistik dari editor berita kenamaan di dunia, bahkan saya pernah bekerja sama dengan seorang peraih piala Pulitzer dan juga wartawan-wartawan di Asia Pasifik. Dan beberapa waktu yg lalu diminta untuk menulis untuk sebuah rumah produksi.

Dan saya rasa, saya bisa berbangga diri, atau boleh lah dibilang sombong, dengan pengalaman saya. Tapi kesombongan saya bukan sebanding dengan kesombongan sebagian orang yang merasa terganggu dengan artikel saya. Apalagi karena anomali tulisan yg bukan tulisan saya. Saya bukan jurnalis, tapi saya mengerti betul prinsip jurnalistik. Saya sudah ungkapkan dari sisi jurnalistik.

Saya akan terus memberitakan kebenaran yang berimbang. Saya akan terus mengasah kemampuan menulis akademis saya hingga buah pikiran saya, bisa membungkam kesombongan segelintir orang.





Citizen Journalism VS Citizen Criticism

24 11 2013

It get to my attention or rather I say, my annoyance, after reading a very disturbing a so-called-journalistic-article. The pathetic part is that the article isn’t even about brutal homicide nor corruptions (well that’s disturbing too), but about a charity event that turns into kissing galore and the particular so-called-journalist wrote it as if its a really newsworthy. But, seriously, editor/moderator, your role is important to make sure the articles is worth reading/watching and not simply a narrow opinion of particular persons. Without justifying that the kissing galore event morally or socially right/wrong, what the writer wrote should not exposing one opinion to another.

I have no objection for citizen journalism. I myself studied mass communication, an advertising and PR practitioner, a writer and also happened to be involved organizing journalist workshop, be friended with few journalists, editors, and journalism scholars in ASEAN countries.

Well, in my humblest opinion, even if a journalist dislike or opposed to the fact in the field, news angle defined your media credibility. Especially if you related to one of the biggest-and-longest-run media. Let me quote: « Journalistic integrity is based on the principles of truth, accuracy and factual knowledge. » So yes, just for the sake of high traffic readership, these principle should not be ignored (for the namesake of citizen journalism) but should withstand firmly in every articles.

A definition of Citizen Journalism by Courtney C. Radsch, says, « as an alternative and activist form of newsgathering and reporting that functions outside mainstream media institutions, often as a repose to shortcoming in the professional journalistic field, that uses similar journalistic practices but is driven by different objectives and ideals and relies on alternative sources of legitimacy than traditional or mainstream journalism. » However, unlike the professional journalism failures might have, I think I have to say that I agreed that if it’s not moderated well with a highly capable editor, citizen journalism would becoming unregulated, too subjective, amateurish, and haphazard in quality and coverage.

Anyway how, it only proof me that not everybody can be a journalists without learning (at least basic) journalism. Oh plus, what is more important is that I think we have to agree to that these day reader need to be smarter too when digesting a news coverage. Otherwise, it will turn into nothing but a spoof.

20131124-001847.jpg