Memilih: Yang Baik Dari Yang Buruk

11 07 2014

Yuforia Pemilu masih riuh-rendah di Indonesia, bahkan teman-teman sesama WNI di luar negeri pun seakan tak mau kalah, ikut « berpesta » demokrasi, yang katanya paling seru dalam sejarah peta demokrasi di negara ini. Bagaimana tidak, karena 2 kandidat calon presiden Indonesia ini masing-masing memiliki kharisma yang kuat bagi masing-masing simpatisannya.

Saya adalah salah satunya, bukan warga negara yg cukup vocal mendukung salah satu CaPres, saya malah cenderung pasif menyuarakan « suara » saya. Cukup memantau saja, walaupun terkadang sampe membelalakan mata dan mengerenyitkan dahi. Yang jelas, saya sih berpegang pada prinsip ‘Rahasia’, jadi kalau ada yg bertanya: « Pilih siapa Ham? », jawab saya pasti: « Ada deh..Rahasia dong ».

Ini pun termasuk dengan ayah saya yg ‘berkampanye’ tentang capres nya kepada saya, yang kebetulan berbeda dengan pilihan saya. Lama kelamaan saya sampai suatu titik dimana saya bertanya, seberapa yakin ya saya dengan pilihan saya?

Beberapa pekan yang lalu saya punya kesempatan berbincang dengan seorang teman. Tentang bagaimana harusnya kita menyikapi pesta demokrasi. Kami berbincang santai tentang « The What If’s ». Menurut teman saya ini, pemilu kali ini memang berat sekali karena masing-masing sama-sama kuat, visi-misinya, basis simpatisannya, hingga cara berkampanye yang kadang juga membuat saya geleng-geleng kepala.

Inti pembicaraan kami yg bisa saya simpulkan adalah, bahwa kedua capres bukan dewa, masing-masing juga punya kekurangan, begitupun orang-orang dibelakangnya. Pemilu itu baratnya memilih yg baik dari yg buruk, bukan yg terbaik dari yg terbaik. Saya juga pernah skeptis terhadap skema politik di Indonesia, tapi saya percaya masih ada kok orang baik di negeri ini. Orang baik yang percaya hal baik sekecil apa pun dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Persis seperti tulisan saya tepat 5 tahun yg lalu, yg di inspirasi oleh kisah pribadi saya, malam sebelum pemilu 5 tahun yg lalu. (Pemilu 2009

Siapapun presidennya, sebanyak apapun « What If’s » yg bisa kita uraikan akan tetap menjadi what if bila kita, khususnya yg masih muda, menginginkan perubahan negara kita kearah yg lebih baik yg dimulai dengan revolusi mental masing-masing indvidu kita dulu.

Teman saya itu juga menambahkan, yang penting adalah siapapun pilihannya, sebisa mungkin cuma ada 1 putaran, karena anggaran negara yg besar itu akan lebih bermanfaat untuk hal lain daripada pemilu 2 putaran. Nah saya setuju sekali dengan yg ini…

 

 





Sebuah Perpisahan Sementara untuk Om Ajie.

17 01 2012

Sebenarnya tidak tepat bila saya bilang bahwa ini adalah sebuah perpisahan.

Oumar Ghazie, seorang teman, kakak, om, atau papa; begitulah kami memanggil sosok om Ajie. Hari ini 16 Januari 2011, om Ajie dipanggil oleh Sang Khalik menghadap keharibaan-Nya pada usia 41 tahun.

Saya selalu menilai bahwa om Ajie adalah sosok yg selalu ramah, penuh senyum, bersahabat dan tulus.

Seperti sebuah tagline makanan ringan anak-anak: « Kesukaan Anak Indonesia » om Ajie selalu menjadi pribadi yg bisa saya bilang, menyenangkan. Baik sebagai seorang teman, kolega, mentor, bahkan sebagai seorang atasan. Tidak heran kabar duka kepergian om Ajie mengejutkan semua orang yg pernah mengenalnya.

Semua yg pernah mengenal beliau pasti setuju kalau om Ajie itu hampir tidak pernah marah. Selalu tersenyum. Namun, kini tidak ada lagi senyum om Ajie yg sudah jadi signature-nya.

Usia memang sudah menjadi rahasia Ilahi.

Saya, kami, teman-teman, juga merasa kehilangan atas kepergian om Ajie.

Mungkin hanya lahir yg berpisah, tapi om Ajie tidak pernah pergi dari kenangan kami.

Mbak Vira, semoga selalu diberi kekuatan, keikhlasan, dan ketabahan untuk melampaui ini semua.

Om Ajie, selamat jalan. Perpisahan ini cuma untuk sementara, kita akan bertemu lagi pada waktunya nanti.

You’ll be missed…

Mis en ligne avec WordPress pour BlackBerry





What Do We Learn From Life? Learn From Your Loved Ones

18 10 2011

You live, you learned. That’s what people says, and its undeniably true. Sometimes we only see life only from the surface, but eventually only your loved ones see it with a different perspective.

 

Wiseman says, you need to take one step back before you take a leap. Most of us are too busy lingering in life problematics, lingering in the past. And all we heard from people around us would say: « I know how you feel » or « I’m with you, hun ». But those aren’t cliche, they mean what they’ve said. No doubts.

 

They help you without you realizing it. It called: Strength. Of course they want the best for you, and yes it seemed that it is the least but you need it from the one you love. Your parents, they’d give you wise word as they been through more life problems. Your partner, they’d hug and kiss you on forehead. Your kids, they’d give you the sweetest smile. Your friends, would pat you on the shoulder. They all know you could go through this. Learn this from them. Embrace this to your soul.

 

Those who stays with you during your hardship and stay true to your heart, are the ones that really love you without hesitation. A heart as big as the world, a patience as wide as the oceans.





An Open Letter to my Munnki

11 05 2011

My dearest Munnki,

That in every prayer there is your name. In every breath there is scent of you. And in the very thought of mine there is your face. The love I have is true, the feeling I have is sincere. There is no question, there is no doubt and that in you I have trusted my fragile heart.

The heart that been broken many times, and within every pieces of it, with you I have sails the ocean of unknown that I don’t know it where it end. You challenged me; you made me believe in me; create the best in me without you realized you have painted a masterpiece in me.

There is no expectation for there is only hope. There is no wrong doing for there is no flaws pointed out of us; we know what we’re doing is for love we have. We love, we trust, we believe.

The light in your eyes you brought in to my life and with the smile I’ve brighten towards your days.

I’m with you and you are with me in every step. Through this rough world of us. Rejoice with the truth and does not delight in evil. Love always hopes, love always perseveres, love never fails.

And I love you, immensely…

your Puppi





Re-Published: You & Me

22 09 2009

I’m trying to hold onto the unknown. All I know is that I keep every words you said about us and you won’t hurt me by betraying those words.

I’m trying to understand the changes. All I know is that I would never changed as you are the only one.

I’m trying let go the circumstances. All I keep is our dreams and I believe we still can make it.

Distance may occur but I will never far. You can be like this but I will always try to understand. You can hate me for this but will always love you, for forever it might be.





Happy Birthday, Munnki

17 05 2009

On your birthday I could only give you a short call as the last phone credit I’ve been saving up for you only allow me to talk less than a minute. Yet, it allow a happiness ransacking my deep thought just by hearing your voice.

And I know from that voice I heard earlier was a happy voice. With you, I couldn’t promise you anything but love and happiness that seems to be a distant memory for you.

Let me put the smile back to your face again.

Happy birthday Munnki. In every prayer is your name.





Surat untuk Rani

1 08 2008

n526549866_1125148_4052Tidak akan pernah mudah ketika aku harus menghadapi keluarga ku, khususnya adik perempuan ku ini. Waktu yang kulalui bersamanya selama 18 tahun bersama, sejak Taman Kanak-kanak hingga SMA, hingga akhirnya masing-masing memiliki hidupnya sendiri-sendiri ketika aku mulai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Pagi ini terasa begitu cerah, hingga satu pesan singkat di telepon genggamku yang dikirim olehnya. Seakan-akan dunia runtuh ketika aku mulai membaca sms tersebut. Aku merasa belum siap menghadapi adik perempuan ku ini, aku tidak menyangka akan terjadi secepat ini dan sepagi ini.

Adik ku, aku hanya ingin kau mengerti bahwa inilah kakak mu yang kau kenal dulu. Bukan salah siapa-siapa, bahkan mereka yang telah mengolok-olok aku ketika aku kecil pun tidak bersalah, aku memaafkan mereka. Aku menerima keadaan ku sekarang ini dengan bahagia Adik ku, dapat kah kau sedikit berbahagia untuk ku? Aku tahu sulit bagimu untuk dapat menerima ini semua, bahkan bukan penerimaan mu yang ku ingin kan. Ku hanya ingin kamu mengerti bahwa ini semua adalah kebahagiaan ku.

Aku mengerti bila kamu merasa malu dan itu adalah hak kamu. Hak kamu untuk marah dan kecewa. Adik ku, tidak akan ada satu hal pun yang merubah kasih-sayang ku kepada mu, walau setelah ini kau membenci ku dan tidak lagi mau bicara dengan aku. Aku menerimanya dengan ikhlas.

Cinta dan sayang ku pada mu melebihi apapun didunia ini. Aku adalah aku yang kamu kenal 24 tahun yang lalu Rani. Aku akan tetap bangga memiliki adik seperti kamu. Yang selama ini kusadari telah menjadi wanita dewasa. Aku tidak tau lagi bagaimana untuk meyakinkan kamu. Satu yang ku yakin adalah cinta-kasih kita sebagai kakak-adik dapat mengatasi ini semua.

I Love you my little Sister, Rani